0

So Please.

so please don’t think I’m shallow
as I’m being attracted to your grace
as I’m being attracted to your scent
and your slant eyes

so please don’t think I’m easy to fall
as I’m slowly fallen for you
as I’m remembering every little things
related to you
now and then

maybe you’re just you
and it’s just me who snap
but please let me
as i’d like to get close to you

0

Kadang

terkadang…
kita lupa, akan kehidupan sekitar kita, bahwa kehidupan tak hanya berpusat pada dirimu seorang.
terkadang…
kita lupa, bahwa kita adalah manusia, bisa merasa, bisa menggila, bisa terluka…
dan terkadang…
kita lupa, bahwa kita sebagai manusia, bisa bangkit kembali
tersenyum
menggapai cita
sampai nanti
melihatmu
wahai aku di masa depan.

0

Fenomena “Panitia/Pengurus” dan “Massa”

Seberapa banyak kepanitiaan yang ada di kampus selama setahun berjalannya kepengurusan? Banyak, dan saya bukan orang yang getol soal hitung menghitung. Tapi bukan angka berapa banyak yang ingin saya tekankan disini. Yang saya ingin tekankan tentang pemberian garis batas antara panitia dan massa yang menjadikan seolah-olah dua hal tersebut adalah dua entitas yang berbeda.
Indikasi ini sering dijumpai ketika diadakannya forum-forum dalam kampus. Ketegangan panitia (terutama yang sering mendengar tentang “keganasan” massa) yang kentara ketika akan dimulainya acara. Sering juga ketidakpuasan massa yang berujung emosi. Bahkan saya menemukan adanya taktik mengumpankan perempuan sebagai presentator supaya tidak di”bantai” oleh massa. Keluhan dari entitas panitia pun amat sering terdengar berkaitan tentang masalah yang sama: partisipasi massa. Massa? Seringnya mengeluh tentang sedikitnya keterlibatan mereka dalam acara.
Burukkah hal itu? Buruk ketika kita lupa bahwa 2 entitas yang saya sebutkan di atas bukanlah satu tubuh. Buruk ketika kita tidak mau memandang dari dua sisi. Buruk ketika kita lupa, panitia juga massa dan acara atau proyek atau apapun sebutan itu sebenarnya adalah milik bersama.
Hanyalah sekedar penyadaran, untuk tidak mengeksklusifkan diri supaya dapat saling membantu demi kebaikan bersama.

0

Gus <3

“My thought are stars I cannot put into constellations”

 

Seringkali aku ingin menulis, tapi kata-kata begitu sult dirangkai, padahal aku suka membagi pikiran. Entahlah, selalu tak pernah kuat menulis panjang lebar.

Kemarin aku nonton The Fault in Our Stars, film yang diadaptasi dari novel bestseller. Pertama kali baca novelnya kan dipinjemin Yasmin (terus bahasa inggris) tapi ga bikin bosen ga bikin pusing, malah bikin terhanyut. Jarang nemu novel sebisa itu bikin ikut terhanyut padahal dalam bahasa lain. Udah lama gak terharu pas baca novel.

Pas nonton, banjir airmata. Duh. Sesuka itu sama karakternya, pengen nemu orang yang kaya Gus. Nemunya dimana gatau deh, di pinggir jalan gakan ada kayanya :<

0

Tantangan

Apa tantangan buat kamu?

Kadang kita mikir, bahwa apa yang harus kita capai, apa yang orang targetin buat kita kerjain adalah tantangan buat kita. Padahal engga loh. Bahkan mungkin itu sudah mauk zona nyaman, ketika kita udah ngerjain hal tersebut terus-menererus. Bahwa mungkin, hal yang paling kita gabisa, hal yang paling kita hindarin, itulah tantangan.

0

Cukup menulis untuk menghilangkan rasa

Kamu memang buka yang paling dewasa, tapi apalagi aku.

Selau terpukau dengan tulisan-tulisanmu, dalam semua aspek begitu indah.

Sayang, melankolis kadang membosankan. Bahkan amat sensitif kadang memuatku bertanya

Apa benar kau orang yang sama?

0

Maaf

Maaf, jika aku menulismu untuk yang kesekian kalinya. Kata-kata ini bukan kamu, tapi kamu dalam pikiranku.

Malam. Maaf mengganggu, Tapi aku harus menulis. Aku harus membuka untuk meredamnya. Lelah sekali membendung itu. Mencoba menutup yang terbuka sedikit. Lelah memang lelah. Padahal semua baik-baik ketika kamu jauh. Ketika tak lagi aku harus merasa senang melihatmu di layar lagi. Kamu lagi, aku tak ingin kamu kembali, wahai tanpa titik. Aku tak ingin.

Temanku berkata soal teori. Ah memang, bodoh sekali aku masih memikirkan hal itu sampai sekarang. Sungguh aku tak ingin lagi, tapi teori itu masih berlaku. Mungkin banyak kedipan di layar dari orang lain. Tapi mungkin jika aku bercermin, terlalu berbeda raut muka itu.

Bagimu mungkin picisan, bahkan bagiku juga. Betapa ingin aku menghapus semua kata-kata yang telah aku ketik sekarang. Betapa ingin.

Tapi sudahlah, mungkin harus menerima dulu. Aku tak suka. Aku ingin tanpa titik. Tapi ternyata tanpa titik malah mebuat kalimat terus berlanjut, dan kata-kata terus mengalir.

Tapi sudahlah. Selamat malam.

2.27